Wednesday, 16 July 2014

Kehilangan 'Dua Bakso' dari Tubuh


          Pernah masuk ruang operasi? Pernah! Sebagai tenaga kesehatan tidak aneh jika saya pernah keluar masuk ke ruang ini. Walaupun sebagai penonton, maksimal jadi ‘asisten’. Asisten di sini maksud saya adalah orang yang menyodorkan alat operasi kepada orang yang berhak melakukan operasi.
           Ruang operasi memberi makna tersendiri bagi saya. Betapa waktu itu sangat dihargai di sini, tidak ada orang yang bisa menyepelekan waktu. Bagi pelaksana operasi sendiri, waktu berkejar-kejaran dengan hidup seseorang. Sedetik itu berharga, terlambat sedikit saja pelaksana operasi tidak bisa membantu orang untuk bernafas lebih lama. Walaupun kita tahu, hidup mati seseorang ada di tangan Tuhan. Bagi keluarga yang menanti di luar operasi, sedetik itu bagai satu jam. Waktu terasa begitu lambat. Mereka begitu lama menanti orang yang mereka cintai kembali dari ruang operasi dengan harapan masih sanggup bernafas. Walaupun kita tahu, hidup mati seseorang ada di tangan Tuhan.
          Saya sendiri pernah merasakan dinginnya ‘meja operasi’. Bulan November 2011, saya bolak balik RSUD Saras Husada, Purworejo untuk mengatur jadwal operasi saya karena bulan itu bertepatan dengan Ujian Kompetensi Profesi saya. Sebelumnya, saya sering masuk ke Poliklinik THT dengan keluhan tonsil a.k.a amandel saya yang mengganggu kesehatan saya. Setiap makan ‘makanan nakal’ saya langsung radang tenggorokan dan sering pilek. Tahun 2008 saat saya kelas 3 SMA, saya pernah ditawari untuk operasi amandel, akan tetapi mental saya belum kuat dan sebentar saya menghadapi Ujian Akhir Nasional. Gak lucu kan, saya sedang try-out tapi kondisi badan sedang ringkih.
         Akhirnya, tahun 2011 ini memantapkan mental untuk operasi walaupun operasi ini termasuk operasi tidak gawat. Berbekal Asuransi Kesehatan dari pekerjaan kedua orang tua saya (saya bersyukur dengan kondisi ini) sore itu saya masuk Paviliun RSUD tersebut ditemani ayah dan pacar saya. Para perawat sempat kebingungan menanyakan yang mau dirawat yang mana karena saya datang sehat bugar dan bisa jalan. Laaaah…… saya kan masih bisa jalan dan gak perlu didorong pakai kursi roda. Sejak saat itu mereka suka memanggil saya ‘Mbak Amandel’. Hahaha ….terimakasih atas julukan barunya untuk saya.
          Prosedur sebelum operasi adalah puasa di malam hari sampai keesokan harinya. Saya mah sanggup saja menjalaninya, yang gak kuat itu prosedur skin test. Apa itu skin testSkin test berfungsi untuk mengetahui apakah kita punya alaergi antibiotik atau tidak (cmiiw). Entah saya harus ‘ALHAMDULILLAH!’ atau bilang ‘ASEM!’ karena apa? Karena skin test itu nyerinya minta ampun! Melebihi digigit 100 semut. Pengen tahu rasanya? Silakan browsing tentang pedihnya skin test. Saat itu saya merasakan karma sedang terjadi. Emang sih, dulu waktu kuliah saya suka menyuntik skin test ini kepada pasien rumah sakit. Sekarang giliran saya yang disuntik. Huhuhuhu…
Jeng…..jeng… jeng ……
           Pagi hari pun tiba, jadwal operasi saya pukul 09.00 WIB, saya ditemani ibu dan pacar saya untuk menyiapkan diri saya. Mulai dari memakai baju operasi. Tenaaaang pacar saya gak ngebantuin makein kok, hihihihi. Waktu itu sih saya masih bisa ketawa-ketiwi, ehh memasuki ruang operasi dengan AC yang menerpa bulu kuduk kok saya jadi deg-degan. Beberapa kali saya menggerakkan kedua kaki saya karena deg-degan
’Deg-degan ya?’ Tanya dokter kesayangan saya
‘Siapa sih dok, yang gak deg-degan?ehehehe’
‘Berdoa ya semoga lancar, kita mulai operasinya’
         Saya pun mengangguk lemah saat ada yang memasang alat untuk merekam kondisi jantung saya. Sekali lagi saya hanya mengangguk lemah saat dokter atau perawat anestesi bilang
‘Mbak, udah siap? Saya suntik anestesi ya…’
         Tidak ada 5 detik kemudian, saya terlelap tidur. Bukan tidur sih, lha wong saya gak mimpi apapun. Sebelum masuk ruang operasi saya berdoa saya tidak mengalami anesthetic awareness seperti yang dialami Clay Beresford di film AwakeAnesthetic awareness suatu kondisi dimana obat bius yang disuntikkan ke tubuh pasien tidak cukup kuat untuk membuatnya tak sadar. Jadi, saat di operasi kita merasakan pisau kecil menyentuh kulit kita tetapi kita tidak bisa teriak minta tolong. Karena posisi kita sudah tidak sadar tetapi masih bisa merasakan sakit. Ngeri? Memang!
        Tiba-tiba saya merasakan perih dan panas di tenggorokan saya, mau menelan ludah saja sakit. Refleks saya memanggil ibu saya, begitu tahu saya sadar perawat yang berada di dekat saya segera memanggil ibu saya yang berada di luar ruangan. Lohhh kok ibu saya nangis? Saya kan masih bisa bernafas, oh mungkin beliau terharu atau ini mimpi. Saya cubit tangan saya, kerasa kok saya panggil ibu saya beliau melihat saya kok. Jadi memang saya sudah sadar dari anestesi dan tidak mengalami anesthetic awareness. Ayo pemirsa bilang apa…?! ALHAMDULILLAH!!!
         Prosedur bagi pasien pasca operasi amandel adalah minum es agar luka cepat menutup dan tidak keluar darah lagi (cmiiw). Di kamar Paviliun sudah tersedia termos isi es batu dan sirup. Ngahahaha… kesempatan nih, saya minta keluarga saya untuk ke toko terdekat buat ngeborong es krim. Ngahaahaha…
          Enak sih bisa makan es krim, tapi perlu kalian ketahui tenggorokan itu rasanya PERIH PISAN, BROHHHH!. Saat itu pun saya marah dengan bahasa tarzan (buat ngomong pun susah) kepada kakak perempuan dan keponakan saya.
‘Katanya gak sakit?! Ini sih memang gak sakit tapi LORO BIANGEEEET TAUUK!’.
Reaksi mereka? Ketawa sepuas-puasnya! Kampret!
Fyi, kakak dan keponakan saya terlebih dulu dioperasi. Kalau saya makan makanan dengan rasa pedas dan asam itu tenggorokan saya seperti ditusuk-tusuk. Sampai seminggu pun masih terasa perih untuk menelan apalagi saat itu musim durian, kalau durian yang saya makan sangat manis dan mendekati agak pahit langsung tuh tenggorokan saya sakit. Alhamdulillah yah, saya masih dikasih rasa sakit dan kemampuan bernafas.
        Tapi rasa sakit saya sekarang bisa tergantikan dengan saya jarang radang tenggorokan dan pilek. Ngahahaha….alhamdulillah!
         Tuhan selalu memberi kenikmatan setelah kesusahan. Ya kan pemirsahhh?!! BETUL!!. Sesampai di rumah saya diperlihatkan 2 amandel yang berhasil diambil tadi, bentuknya seperti bakso urat. Kenyal, agak kasar, brenjol-brenjol, diameter kira-kira 1-1,5cm kalau tidak salah.
           Mungkin setelah saya menulis ini, ada yang akan menggagalkan jadwal operasinya. Hei, sebelum menggagalkan sebaiknya banyak baca buku atau meminta nasihat kepada dokter kesayangan Anda. Jangan terpengaruh dengan cerita saya.Oke? Oke sip!
Salam cium,
Perempuan yang kehilangan ‘dua bakso’ dari tubuhnya.


Tulisan ini pernah saya muat tanggal 28 April 2014 di sini :) 

Tuesday, 15 July 2014

WE FALL IN LOVE WITH PEOPLE WE CAN’T HAVE


Silakan mengunjungi blog ini jika Anda berkenan, pernah saya muat di sana pada tanggal 25 April 2014
We fall in love….
With people we can’t have…
Lagi scrolling timeline, tiba-tiba liat ‘meme’ kalimat tersebut, sederhana namun cukup menyesakkan.
Pernah sadar gak? Misal, saya mencintai A, A juga mencintai sesorang tetapi bukan saya.
Memang, saya dan A saling mencinta, tapi tidak ada feedback. Sederhana kan? Iya. Tapi bikin hati sesak.
Berfikir dunia ini tidak adil? Sering. Tetapi itulah mencinta. *duileh*
Memang saya bukan Mario Teguh yang sudah menelan asam, manis, pahit manisnya cinta dalam kehidupan.
Setidaknya saya pernah menyesap pahitnya mencintai. Saya berharap pahitnya mencintai mendapat penawar rasa pahit.
Ternyata, penawarnya saya dapatkan beberapa tahun lagi.
Penawarnya….
Dicintai dengan tulus
Pengalaman yang membuat saya menyesal di kemudian hari adalah saat saya terlalu khusyu’ menikmati mencinta.
Menutup mata akan orang yang mencintai kita dengan tulus.
Kalau kita terkejar, kejar mengejar cinta kita. Gak ada dong timbal balik? Nikmatilah dicintai.
Iya ..
Saat ini saya tengah menikmati nikmatnya dicintai …

Salam cium,
perempuan yang sedang dicintai

ambil dari google

DICINTAI? MENCINTAI?

Ini bukan karya jiplakan, pernah saya muat di blog sebelah pada tanggal 25 April 2014.
Saat ada yang menanyakan pilih mencintai atau dicintai?
Saya dengan lantang menjawab “DICINTAI!”
Karena apa? Karena resiko patah hati dicintai itu lebih sedikit daripada mencintai.
Kemudian timbul pertanyaan lagi, “Semua yang ‘nembak’ kamu, kamu iya-kan dong?”
Saya langsung ciut, diam dan jantung pun berdetak lebih kencang.
Karena apa? Karena selama ini saya rela menunggu seseorang yang saya cinta daripada menerima ajakan hati orang lain.
Setelah sekian lama, barulah saya tersadar otak saya memilih dicintai tetapi hati saya sibuk mencintai.
Sibuk mencintai tanpa mau membuka hati untuk orang lain.
Sebenarnya apa sih yang membuat saya tidak mau menangkap orang yang jatuh cinta sama saya?
Simpel, karena saya terlalu takut tidak bisa menahan beban orang yang sedang jatuh cinta 

Salam cium,
Perempuan yang menikmati dicintai

KAMU, TETAP KENANGAN YANG PALING AKU BENCI


Yihaaa... tulisan ini bisa diliat di sini. Sebelumnya pernah saya post pada tanggal 7 April 2014

Berpura-puralah tidak mengenalku
jika kita bertemu dimasa mendatang.
Berpura-puralah sebagai orang asing
saat kita diperkenalkan lagi oleh waktu.
Berpura-puralah sebagai orang baik
saat anakku berjabat tangan denganmu.
Berpura-puralah tidak menatap mataku
saat pandangan mata kita beradu.
Berpura-puralah kamu melupakanku
saat memori memaksa kita berkawan.
Saat kita bertemu nanti
Kamu, tetap kenangan yang paling aku benci.

KAMU, YANG PALING AKU BENCI.


Seperti beberapa tulisan sebelumnya, ini pernah saya publish di sini pada tanggal 4 Maret 2014. Jangan seperti saya, benci kenangan akan tetapi mudah terlarut saat mengenang.

Semenjak tak bersajak
Aku tak ingin beranjak
Dari tempatku menjejak
Hanya jejakmu yang masih tercecer di pikiranku, kamu…
Memilih menoleh dan pergi
Kamu pergi sebelum ada jejak kita berdua
Di pantai atau di rumahku
Bukan aku tak merelakanmu
Tetapi sudah semestinya
Kita menghiasi masa lalu dengan kenangan indah
Tanpa perlu kamu tahu
Aku masih menunggumu di sudut itu
Tanpa perlu kamu tunggu
Aku masih menyisakan tempat untukmu
                                   Kenapa aku membencimu?
                                   Karena kamu kenangan yang paling aku hindari………….
foto candid saat di Candi Kalasan

KELUHAN ANDA TIDAK SEBANDING DENGAN PELUH ORANG YANG MENGINGINKAN POSISI ANDA

Hai teman, tulisan ini pernah saya muat di blog yang ini pada tanggal 27 Februari 2014. Semoga kalian lebih bersyukur dengan keadaan kalian. Fighting --9




“Mbak, bayar berapa?”
“Gak bayar, Bu”jawab saya
“Oh…” jawab Sang Ibu sambil melihat kantong berisi obat di tangan kanan saya.
        Saya kemudian mengamati Sang Ibu, beliau ibu muda  yang berpakaian lusuh sambil menggendong anaknya yang terus menangis. Mungkin  Sang Ibu belum terbiasa berobat di Puskesmas ini, bahwa biaya obat sudah termasuk dalam biaya pendaftaran yang tadi dibayarkan di awal.
        Kejadian tersebut terjadi ditahun 2006 saat saya duduk di kelas 2 SMA, kalau tidak salah saat pertengahan semester, Salmonella typhi kembali bangkit dalam tubuh saya yang membuat saya dirawat di Puskesmas Rawat Inap yang dekat rumah saya. Ibu saya sangat takut melihat saya jika kambuh penyakit saya ini. Sehingga secepat kilat membawa saya kesini.
          Udahlah gak usah banyak menye-menye, intinya saya beruntung karena bapak ibu saya bekerja dan memiliki jaminan kesehatan untuk seluruh keluarga sehingga kalau saya sakit, tidak terlalu ribet berurusan dengan biaya.
         Nah bagaimana dengan  ibu muda tadi? Di sini, saya bukan mau memandang sebelah mata ibu tadi. Bisa jadi tidak memiliki jaminan kesehatan. Bahwa kesehatan itu amat mahal baginya. masih bingung dengan alur berobat di instansi pemerintahan. 
         Delapan tahun berlalu, dan saya sekarang bekerja di Puskesmas. Saya benyak mengambil pengalaman dari pekerjaan ini. Kenyataannya, banyak orang yang masuk kategori belum mampu dan tidak mendapat jaminan kesehatan. Mungkin ada anggapan berobat di Puskesmas itu murah. Biaya pendaftaran tidak sampai Rp. 5.000,00. Kalau Anda bekerja sebagai orang lapangan yang bertemu langsung dengan pasien dan berinteraksi langsung dengan pasien, pastilah Anda memahami bahwa tidak semua pasien menganggap berobat di Puskesmas itu barang murah.
Kasus 1:
Tn. A, 40 tahun, duda, di rumah hanya dengan ibunya, punya penyakit menahun dan tidak terdaftar jaminan kesehatan.  Malah adiknya yang mendapat jaminan, adiknya. Akhirnya dengan kebijakan staf Puskesmas, Tn. A dapat berobat di Puskesmas kami dengan jaminan kesehatan adiknya tersebut. Akan tetapi, dia hanya di  bisa memakainya Puskesmas kami dan kami tidak bisa memberi dia rujukan ke instansi yang lebih tinggi dengan menggunakan jaminan kesehatan milik adiknya.
Kasus 2 :
Ny. B, 20 tahun, punya anak 1 berumur 2 tahun. Menuju puskesmas membutuhkan biaya Rp. 10.000,00 untuk ojek pulang pergi. Akhirnya, untuk menghemat biaya dia jalan kaki membutuhkan waktu 40 menit untuk jalan kaki. Memang biaya berobat gratis tapi dia mengeluarkan biaya untuk transportasinya. Bisa Anda bayangkan? Puskesmas tempat kerja saya berada di ibukota provinsi di Pulau Jawa. miris bukan?
Demikian saudara, semoga Anda tidak terlalu mengeluhkan hidup Anda. Banyak orang yang menginginkan posisi Anda. Keluhan Anda tidak sebanding dengan peluh orang yang menginginkan posisi Anda.

Friday, 11 July 2014

PERJALANAN KE TIMUR


Tulisan ini pernah saya muat tanggal 29 November 2013 di sini .
Sabtu, 9 November 2013.
        Ini kali pertama saya naik kereta menuju ibukota Jawa Timur, yang sebelumnya hanya bisa menjejakkan Provinsi Jawa Timur saat berkelana ke Pulau Bali pada tahun 2007 (lama bingit keleus). Bayangan saya sebelum masuk ke dalam kereta Mutiara Selatan, pasti perjalanan ini menjemukan. Bayangkan saja 12 jam perjalanan Bandung-Surabaya dihabiskan duduk di bangku kereta. Melewati 3x waktu sholat di kereta dan makan malam di kereta, itu pasti saat tidak mengenakkan. Tak terbayang bagaimana bentuk pantat saya setelah menempuh 24 jam perjalanan pulang  pergi. Ah, saya tepis pikiran negatif tersebut, saya mencoba bermimpi berbertemu dengan pria yang menyenangkan selama perjalanan ini.
        Satu jam setelah berangkat dari Stasiun Kiaracondong, tempat duduk saya masih kosong, ah… pupus sudah harapan saya mengobrol dengan pria menyenangkan. Saya mencoba mengambil hikmah, bahwa sampai  Surabaya saya bisa meluruskan punggung saya tanpa harus tidur dalam posisi duduk. 
        Sudut mata kanan saya melihat spemandangan yang membuat saya bahagia. Bangku belakang seberang saya (bagaimana menjelaskannya yah? Intinya bangku seberang tapi dibelakang saya atau  sebelah serong saya), ada pria berumur kira-kira 60 tahun sedang menundukkan kepalanya. Mata saya mulai usil, saya menoleh dan curi-curi pandang kepada bapak yang sedang melaksanakan Sholat Maghrib. Woooow…jarang saya temui ada yang yang menyempatkan sholat di dalam kereta (NDESO I).
        Saya pun menyantap hamburger setelah puas curi-curi pandang dan melaksanakan 2x kewajiban saya sambil melihat kanan kiri. Yang ada hanya kegelapan malam, lampu-lampu cantik saat melintasi kota Garut. Inilah yang membuat saya suka naik kereta pada malam hari, lampu-lampu terlihat seperti bintang. Apalagi ditambah keadaan geografis jalur selatan yang penuh dengan gunung membuat saya puas melihat kerlip lampu dan hati bergetar saat kereta melambat di tanjakan (takut kereta mogok cyiiiiiiiinnn). Setelah makan terbitlah kantuk, begitulah saya apalagi ditambah tadi sebelum berangkat saya sudah minum obat anti mabok (NDESO 2). Rasa kantuk menyerang membuat saya menata bantal, memakai jaket dan kaos kaki dan berharap tidur sampai Surabaya.
         Jika anda sering naik kereta pasti keinginan untuk tidur sampai tempat tujuan adalah hal mustahil. Terbukti dengan saya, saya terbangun oleh peluit saat berhenti di stasiun. Namanya wong ndeso, bangun sebentar dan tidur lagi, hahahahahaha(NDESO 3). Stasiun Tugu, di sini saya harus berbagi tempat dengan penumpang dari Jogjakarta. Ah, seorang pria setengah baya, kami basa basi menanyakan asal, pekerjaan, tempat tinggal, alasan memilih pekerjaan dan masalah indah di dunia ini, cinta…
        Beliau lulusan salah satu universitas swasta di Jogjakarta dan bekerja di perusahaan swasta. Kisah cinta beliau cukup menyentuh. Setelah pacaran dari SMA sampai kuliah tingkat 2, beliau hanya ditinggal pergi begitu saja oleh kekasihnya dulu
“Saya masih ingat Mbak, wajah dia saat berpisah sambil menyerahkan sapu tangan. Dia pergi begitu saja tanpa alasan”  
“Hari itu masih jelas di depan mata saya, Mbak” mata beliau sambil menerawang jauh. Pak, aku pun tahu rasanya
Beliau bercerita, beruntung beliau tidak masuk ke rumah sakit jiwa setelah berpisah tanpa alasan. Beliau meneruskan kuliah dan akhirnya menikah dengan teman satu kelas di kampusnya.
“Saran saya sebagai laki-laki, Mbak. Njenengan harus mendukung calon Njenengan, takutnya dia jadi trauma dan ndak mau menikah”
“Apalagi kedua keluarga sudah saling mengenal, kalaupun Njenengan mau menyerah, berpisahlah dengan baik-baik”
FYI, jarak umur beliau dengan kekasihnya dulu cukup jauh, beliau sudah akrab dengan keluarga sang mantan. Sang mantan sudah dianggap anak wadon di keluarga beliau dan beliau selalu menjemput sang mantan saat sekolah. Bisa kita bayangkan, betapa perihnya beliau saat ditinggalkan.
Time flies so fast….
“Entah bagaimana caranya dia tahu nomor telepon saya, Mbak. Setelah 10 tahun kejadian itu dia tiba-tiba menelpon dan menangis”
“Bapak pernah ketemu sama beliau, Pak?” Tanya saya penasaran
“Pernah…Dia curhat masalah anaknya yang punya kelainan jantung dan harus dioperasi, saraf suaminya ada yang terjepit”
“Dia nangis sambil meminta maaf, Mbak. Menurut dia ini karma karena meninggalkan saya”
“Pesan saya, Mbak. Bukannya saya mendoakan yang jelek, tapi hidup itu berputar kita takkan pernah tahu masa depan”
“Maaf Pak, apa istri bapak tahu kalau Bapak ketemu sama beliau?” mungkin ini pertanyaan lancang, tapi rasa penasaran saya menggelitik
Beliau tersenyum simpul “Ya ndak  Mbak, Saya menjaga perasaan Nyonya” (beliau memanggil istrinya dengan sebutan “nyonya”)
“Saya tahu batasan, saat bertemu dia, saya hanya berperan segai teman dan memberi dia saran.”
“…….” Hanya bisa mengangguk-angguk
Pelajaran yang bisaya saya simpulkan saat Bapak ini bercerita :
  1. Setiap orang mempunyai masa lalu, tetapi masa lalu hanya batu loncatan untuk masa depan.
  2. Cinta pertama selalu punya tempat tersendiri.
  3. Lelaki sangat menjaga perasaan wanita. (pasangan saya pun iya)
Beliau melanjutkan pembicaraan “Mantan saya satu profesi dengan Njenengan, Mbak.”
Saya hanya bisa menjawab “Hah?”

Sesampai di Stasiun Gubeng, kami berpisah dan berjabat tangan. Beliau menyemangati saya “Semoga berhasil, Mbak. Sampai ketemu lain waktu”
       Kami tidak bertanya nama maupun nomor telepon, tetapi harapan saya semoga Alloh menghendaki pertemuan kedua kami dan saya bersedia menjadi pendengar beliau. Beliau pintar bercerita, memberi saran pun tidak terkesan menggurui. Beliau tidak memandang remeh saya, karena umur saya jauh lebih muda daripada beliau.
       Sayang sekali, saat perjalanan pulang ke Bandung saya tidak bersebelahan dengan pria menyenangkan. Tetapi, mendapat ilmu baru dari seorang ibu yang bekerja sebagai agen asuransi. Selama perjalanan Bandung-Solo, saya berusaha menggali ilmu tentang asuransi. Karena saya masih awam tentang asuransi. Dan beliau menawari saya pekerjaan sebagai agen asuransi. Saya hanya menjawab “Inshaa Alloh Bu, tapi terimakasih untuk ilmu yang baru ini”
       Oh iya saya lupa, walaupun sebelah saya bukan pria menyenangkan tetapi serong depan saya duduklah seorang pria berumur 20-27 tahun. Yang saya kagumi dari dia, dia menunaikan sholat di kereta dan hasil gambarnya bagus. Setelah kereta berangkat dari Stasiun Gubeng, dia sibuk mencorat-coret di kertas HVS, dan woooww hasilnya bagus. Tetapi point yang saya sukai, tangan dia saat menggambar SANGAT SEXY ! (NDESO 4).Sayang, dia melirik saya pun tidak.
Hati saya mudah lumer terhadap pria yang pintar menggambar.
       Saya hanya berharap, semoga Alloh menghendaki pertemuan kedua saya dengan dia di Bandung. Karena dia turun di stasiun yang sama dengan saya, Stasiun Kiaracondong. Walaupun saya tidak menjamin saya masih ingat mukanya tidak, karena saya hanya mengingat mukanya samar-samar.
      Itulah mengapa saya menyukai perjalanan, bertemu dengan orang baru, belajar menyesuaikan diri dan keadaan, dan yang terpenting mendapat pengalaman baru. Pengalaman tidak harus kita alami sendiri, karena waktu kita tidak tidak akan cukup untuk mencoba hal yang baru. Pengalaman orang lain adalh pengalaman kita juga. Bertemu pria ganteng atau sexy adalah bonus dari perjalanan.HAHAHAHAHAHAHAHAHA :)

Salam cium,
Perempuan yang mencintai kenangan.

di ambil dari google