Monday, 4 May 2015

Mengejar Matahari ke Bukit Moko

Citra Mahardika a.k.a Tecit, teman sekaligus saudara saya di Bandung pernah mengikrarkan janji kita berdua bahwa kita harus dapat sunrise di Bukit Moko/Caringin Tilu. Setelah beberapa kali mengalami perombakan rencana, datanglah Tecit ke kontrakan saya kemarin sore. Minggu ini adalah seminggu sebelum lebaran 2014 dan banyak sekali sale di mana-mana. Berhubung kita calon mamak-mamak sejati yang mudah tergiur Midnight Sale, setelah Isya berangkatlah saya, Tecit, Mbak Ida, Ami (dua nama terakhir adalah teman  satu kontrakan )  ke pusat perbelanjaan di Kota Bandung. Waktu  5 jam itu terasa lama jika menunggu seseorang, tetapi terasa sebentar jika mengincar Midnight Sale. Terbukti kita masih berada di pusat perbelanjaan tersebut pukul 00.00 WIB. Kita menjadi saksi hidup betapa repotnya menjadi pramuniaga di sana. Mulai dari melipat baju yang telah kita obrak-abrik, menyapu & mengepel lantai setelah kita injak-injak, yang terberat menghitung pendapatan toko selama hari ini.

Hampir saja saya tergoda untuk tidak menepati janji kita berdua untuk pergi ke Bukit Moko, Karena kaki pegal-pegal dan harus bangun jam 03.00, tetapi pada kenyataannya
Pukul 03.00 WIB
Kring….Kring….Kring
‘Ning…berisik amat!’  seru Tecit tanpa membuka mata
‘Hhhhhh..’
‘berisik tauk!’
Saya bangkit mematikan alarm dengan mata masih terasa berat. Setelah kondusif kami pun tidur lagi 
Pukul 04.00 WIB
‘Ning… sahur gak?!’ Sekarang giliran Ami yang membangunkan tidur saya
‘Hhh… gak Mi, bocooor’ jawab saya sambil melirik Tecit yang masih asyik bermimpi
Dalam hati saya gagal sudah rencana kami melihat sunrise di Bukit Moko.
Pukul 05.00 WIB
‘Teciiit, banguuuun…!’
‘Hhhhh… kok gak ngbangunin gue sih’
‘Gak usah banyak cincai, capcus euy’
‘Pipis heulaaa..’

Pukul 05.30 WIB
‘Siap mengejar matahari, teh?’ tanya saya sambil menyalakan mesin motor
‘Selalu!’ jawabnya mantap.

Memakai baju rangkap 4, sepatu & kaos kaki, sarung tangan dan penutup mulut, kami siap menembus dinginnya Bandung di waktu subuh. Beberapa hari ini Bandung sedang dingin-dinginnya, suhu terendah pernah mencapai 18◦C . Tidak heran kami bepergian seperti ini.

Bukit Moko dari Cigadung (daerah kontrakan saya) bisa ditempuh dalam waktu 15-30 menit menggunakan kendaraan roda dua. Mencapai Bukit Moko terbilang mudah, jika Anda keluar dari tol Pasteur (barat Bandung) maka lurus saja melewati  jalan layang Pasopati ikuti petunjuk arah menuju terminal Cicaheum. Sebelum mencapai terminal, Anda akan menemukan petunjuk arah Saung Udjo (tempat ini sangat terkenal). Ada perempatan Anda belok kiri dan lurus turus ke atas kira-kira 7 km. Jika Anda dari arah Cileunyi (timur Bandung), Anda berjalan ke arah barat menuju terminal Cicaheum, setelah mencapai terminal Anda akan menemui lampu merah maju sedikit ada perempatan Anda harus belok kanan. Oh ya, tidak ada angkutan umum menuju ke atas, bisa menggunakan motor atau mobil kecil yang kuat karena medan yang turun naik dan jalan sempit. Sebelum berangkat ada baiknya Anda memeriksa kendaraan Anda demi perjalanan yang menyenangkan.

Kepalang kesiangan, saya memacu motor dengan kecepatan 70-80 km/jam (ini kecepatan maksimal saya) dan menerobos saja polisi tidur biar dia bangun.  Berdoa di sepanjang jalan agar matahari terbit kesiangan karena males bangun  di hari minggu. Tecit yang di belakang saya setiap saat berseru ‘Cepet men, keburu nongol mataharinya’.  Untungnya, jalanan masih sepi sehingga saya berani ngebut. Memasuki Cimenyan, Kabupaten Bandung  jalan mulai menyempit dan nanjak, saya hanya  berani memakai gigi 1 atau 2.

Sebelum mencapai Bukit Moko, ada 2 pohon caringin (beringin) yang harus dilewati. Hati-hati jangan sampai salah menebak seperti saya. Dua kali pamer kalau pernah ke Bukit Moko, ternyata saya hanya sampai Caringin I. Karena di sana banyak warung-warung penjaja makanan dan menyediakan tempat untuk melihat pemandangan. Belum lagi, jalanan tidak menanjak lagi, saya kira udah sampai Bukit Moko eh ternyata masih ke atas lagi kira-kira 2 km. Perjalanan ke atas tidak se-ekstrim sebelumnya hanya menanjak.

Tantangan belum selesai, saya sampai di penghabisan jalan aspal dan menemui cabang,  ke kiri atas dan ke kanan bawah. Keduanya jalan setapak batu dan kalau hujan pasti becek. Anda cukup mengambil jalan ke kiri atas, saya sarankan menitipkan kendaraan di warung (ada warung di cabang tersebut). Membutuhkan tenaga untuk ke atas kira-kira 1 km dan menanjak. Fiuuuuuuh. Pagi dengan udara dingin ditambah jalan menanjak sempat membuat saya susah bernafas.
Sesampainya di atas Anda akan menemui Warung Daweung, satu-satunya warung yang ada di atas. Oh ya waktu saya sampai, kita berdua diharuskan membayar pajak tempat Rp. 10.000,00/orang, mungkin untuk kebersihan sekitar bukit. Dingin dan capek jalan nanjak terbayar sudah dengan pemandangan seperti ini :


ada Mas Bule ramah, hihihi

ini dia, Teh Citra
Tangkuban Parahu dari Bukit Moko
abaikan muka ngantuk
ala-ala traveler

editan camera360


semburat fajar mulai beranjak

terima kasih Tuhan atas penglihatan ini




Selamat Piknik!


Perempuan yang suka diajak piknik.







Thursday, 30 April 2015

Aku Tulus Mendoakan Kalian, Sekarang.

Mas, apa kabar?’ satu-satunya pertanyaan basi yang keluar dari mulutku.

‘Kamu gak berubah ya, masih seperti anak kecil’ jawabnya sambil tersnyum simpul.

Padahal yang aku lakukan setiap hari untuk mengenangmu adalah membuka halaman di jejaring social.
 Melihat dari jauh, untaian kalimat yang kamu utarakan di halamanmu.
 Membuatku menjadi yakin, kamu yang aku rindukan beberapa tahun ini.
Melihatmu dari jauh, dan  kenyataan meyakinkanku bahwa aku memang tak pernah memilikimu.
Iya. Aku tak pernah memilikimu hanya sanggup melihatmu dari kejauhan seperti beberapa tahun silam.

‘Mas, kamu ke mana aja waktu aku lagi sayang-sayangnya?’

‘Mas, bisa gak kamu anggap kamu bukan sebagai adik?’

Dua pertanyaan itu yang selalu ingin aku tanyakan padamu.
Tetapi hanya aku simpan dalam hati.
Pura-pura senang dengan pilihan adalah topeng yang aku pakai saat melihatmu tersenyum bersamanya.
Menertawakan kecerobohanmu saat membuatnya marah adalah pemanis rasa cemburuku. Menyemangatimu untuk membahagiakannya adalah penawar rasa marahku.

Sebentar lagi hari bahagiamu datang dan aku hantarkan doa agar kalian berdua bahagia selalu dengan pilihan kalian.

Kali ini aku tulus.
Sungguh.

Perempuan yang sudah merelakan.


Saturday, 9 August 2014

Perihal Bersyukur


Perihal bersyukur itu urusan kamu  dan Tuhan. 
Bukan urusanku
Mengertilah, banyak orang yang menginginkan posisimu.
Ceritakan kepada Tuhan & orang terdekatmu
Banyak yang berpeluh menginginkan pekerjaanmu

Kamu? Sibuk berkeluh di depan umum.
Banyak wanita yang bersabar & berusaha agar diberi keturunan.
Kamu? Sibuk menceritakan ketidaknyamanan kehamilan.
Banyak orang tersenyum menutupi kekurangan.
Kamu? Sibuk mengumbar ketidakpuasan.

Mengertilah, keluhanmu tidak sebanding dengan peluh mereka.

Friday, 18 July 2014

Sesulit apa pekerjaan kalian?


‘Dek Bidan.....!’ teriakan yang membuat aku sadar

Teplak..teplak...teplak... ‘ Suara sandal yang berlari mengikuti kaki empunya

‘Gak usah pake lari-lari.. ’teriakan makin kenceng.

‘Gimana Bu?’ responku sambil menunduk takut

‘Dapet pasien apa kamu? Gimana kondisinya?’ tanya Bidan seniorku ini

‘Eee...pasien GIP0A0, 24 tahun, hamil 38 minggu 2 hari, janin tunggal hidup intrauterin, presbelkep, puka dengan ketuban pecah di....’

‘Tensinya berapa?’

‘120/70, bu’ jawab aku singkat

‘Terus kamu, dapet pasien apa kamu?’ tanya Bidan senior ke temen sebelah aku yang juga sudah pucat.

bla..bla...bla....

‘Oke, observasi pasien masing-masing jangan rebutan ya’

‘Iya buuuu..’ jawab kita yang lagi praktek disini.

‘Plus, jangan lari didalam ruangan , disini bukan lapangan’ lirik beliau tajam

'..........'

        Fiuh, udah bisa kentut nih sekarang. Deg-degannya minta ampun, Nek. Bidan senior tadi termasuk bidan yang ‘disegani’ di lingkungan rumah sakit tempat aku praktek klinik semester ini. Dilihat dari postur tubuhnya yang berisi, alisnya tebal,  tatapan matanya menusuk yang seakan-akan masuk kedalam mata siapapun yang melihatnya. Sebisa mungkin sih menghindar kalau ketemu beliau. Sayangnya, hari ini harus jaga pagi dan pasti ketemu beliau. Hal yang menyebalkan kalau lagi praktek klinik adalah jaga pagi di rumah sakit. Kenapa?

·         Harus bangun pagi. Shift pagi dimulai jam 07.00 WIB dan jangan telat. Telat masuk ke ruangan dimana semua orang yang kerja di situ saling bahu membahu membersihkan ruangan dan kalian dengan muka polos masuk sambil bilang “Ibu, maaf saya terlambat ban motor saya bocor”. Siap–siap deh sepanjang shift bakal jadi pusat perhatian, ini bukan karena kalian artis tapi yah kalian tahu sendiri.
·         Shift pagi adalah shift tersibuk dari shift siang ataupun malam. Kenapa?  Semua jadwal operasi (kalau bukan cyto) dilaksanakan pagi hari. Jadi kita yang sibuk sana-sini mempersiapkan ibu yang akan di operasi. Kebanyakan pegawai masuk kerja pada shift pagi begitu juga dengan senior-seniornya. Beruntung kalau pegawainya baik-baik, la kalau sengak? Ya derita kamu deh. Dari semua pertimbangan di atas, dimanapun aku praktek klinik dan dapetnya di rumah sakit, dapet shift pagi pula intinya harus mempertebal mental.

         Alhamdulillah sekarang sudah menjadi bidan beneran yang agak abal-abal dan ditempatkan di puskesmas. Hihihihi. Dari dulu saya memang ingin sekali ditempatkan di puskesmas. Sepertinya mental saya belum cocok untuk di rumah sakit. Berkutat dengan pasien yang butuh tindakan cepat, senior di sana-sini, harus gerak cepat. Semua serba cepat.

        Eits, tapi jangan salah. Kerja di puskesmas bukan berarti santai dan seenak udel sendiri. Pegawai puskesmas itu ujung tanduk dunia kesehatan. PUSKESMAS = Pusat Kesehatan Masyarakat. Dilihat dari namanya pun sudah jelas, bukan? Kita yang pertama kali berhadapan dengan pasien, entah pasien dengan sakit ringan atau pasien yang butuh rujukan.

        Menurut kebanyakan, puskesmas itu tempat rehabilitasi & kuratif, tetapi sebenarnya dia tempat preventif dan promosi. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar menjelaskan apa itu Puskesmas. Kalian bisa cari sendiri kan? Kurangin manjanya yaaa.

        Preventif dan promosi maksudnya, sebelum terjadinya kesakitan kita harus mencegah dan gembar-gembor upaya agar tidak terjadi kesakitan. Walaupun kita tahu semua ada di tangan Alloh.
Makanya waktu sekolah banyak sekali pak mantri & bu mantri yang datang ke SD untuk suntik menyuntik. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Jangan pada dendam sama pak mantri karena kalian di suntik ya. Kerjaan mereka susah lho, dari mengumpulkan data siswa, kerjasama dengan sekolah, mengambil vaksin di dinas kesehatan, menghadapi anak-anak rewel gak mau disuntik, kejar-kejaran dengan siswa yang kabur, dan yang paling berat adalah tanggung jawab mereka. Misal (semoga tidak ada kejadian) setelah di suntik ada yang panas, bengkak daerah suntikan. Pasti orang tua portes kan? Berat tauk.

       Terkadang ada pegawai puskesmas yang door to door untuk mendata status imunisasi, menanyakan kesehatan anggota keluarga & kebersihan rumah. Jangan ditolak ya kalau mereka datang. Susah tauk kerjaan mereka, dari mendata penduduk di wilayahnya, berkoordinasi dengan kelurahan, jalan dari rumah ke rumah, belum lagi ada masyarakat yang memandang sebelah mata pekerjaan kami. Sakitnya tuh di sini *nunjuk dada kiri*

       Terus ada yang protes karena pelayanan di puskesmas itu lama, pegawainya judes-judes, mau bikin rujukan aja dipersulit. Hei, kerjaan kami selain mengurus pasien sakit, melayani obat, ibu hamil, imunisasi, dan yang lain. Kami sibuk dengan laporan setelah selesai pasien. Makanya kalian jangan seenaknya datang siang ke puskesmas. Kita juga harus merekap laporasn yang kami lakukan. Mencatat apa yang dilakukan.
Nah yang suka marah-marah tentang rujukan. Banyak masyarakat yang menangkap setengah informasi dari pemerintah. Ada yang ingin dirujuk dari puskesmas langsung ke rumah sakit tipe A (contohnya: RS Hasan Sadikin, RS Sardjito, RS Karyadi). Rujukan itu berjenjang tauk. Dari  pusat kesehatan dasar sampai rumah sakit pusat. Kalau bisa di tangani di puskesmas, ya pasti ditangani. Jangan seenaknya sendiri. Lebih baik tanya dan hargai penjelasan mereka.

       Capek juga meluapkan apa yang dialami setelah setahun ini. Sebenarnya cerita  ini mah singkat banget, gimana kalau kita ketemuan aja biar kalian nanya lebih puas? Hahahaha.

       Ngeluh? Kadang iya, tetapi jangan mengumbar keluhan di hadapan orang lain. Banyak orang yang ini berada di posisi kita kan?. Tuhan selalu tahu dan ada di samping kita kok.


Salam cium,
Perempuan yang menikmati pekerjaannya.



Wednesday, 16 July 2014

Nikahi aku dengan 'Skripsi'!


Sebenarnya tulisan “NIKAHI AKU DENGAN SKRIPSI!” ini saya buat pasca kelulusan kuliah DIV saya sekitar tahun 2012, dikala masih alay dan galau karena kerjaan. Tetapi belum saya publikasikan karena belum sadar banget fungsi blog(sekarang pun masih bingung pakainya), maklum agak gaptek. Udahlah gak usah banyak prakata langsung sikat aja….cus cyiiin…..
Punya pacar yang biasa, tampang biasa, tingkah biasa, IQ biasa, dompet pun biasa *ehh (tiga kata terakhir gak usah dicerna). Saat menulis ini, aku udah 3 tahun lebih pacaran sama pacar. Tiga tahun bukan waktu yang singkat buat suatu hubungan pacaran. Bayi tiga tahun udah bisa lari-lari kesana kemari, belajar makan sendiri. Terus bayi sama kita apa hubungannya coba?. Bukan hubungan tanpa arah yang kita lalui, bukan juga cerita pilu yang akan kita dapatkan. Di antara lubang-lubang jalan yang kita lalui bersama, tersimpan banyak hal konyol yang kita dapati. Seperti ini……
‘Umm, kayaknya double steak enak nih Ay’ aku bilang sambil air liur udah netes seember.
‘Oke, tapi aku gak mau bantu ngabisin loh     Yank.’
‘Terserah lah, pasti enak nih’ jawab aku excited
Beberapa saat kemudian makanan datang….
‘Wuihhh, beneran Ay bisa ngabisin?’ tanya pacarku pakai nada mengejek
‘Bisa ay, bisa…’ jawab ku mendadak udah kenyang liat steak didepan kita berdua
Didepanku dua onggok steak sudah tersenyum manis rapi di dalam satu hot plate seraya berkata ‘Ining, nikmatilah aku seakan besok gak ada lagi steak didunia ini..hihihiihihiiiiii’ . Maaakk… kenapa jadi horor gini? Jeritan hatikku ngebayangin hantu-hantu steak yang terbuang karena aku gak sanggup ngehabisin mereka. Teman hantu steak yang ada perutku pasti akan menuntut atas terbuangnya teman mereka dengan cara mengendap berhari-hari gak mau keluar dari istana perut dan menutup lubang anus sehingga perutku membuncit dalam kurun waktu 7 hari dan ahhh tidaaaaak …
Aku pun tersadar dari halusinasi berdosa ini
‘Ay, enak loh.. kamu gak mau ngicip-ngicip?’ rayu aku sambil kedip-kedip eksotis
‘Belum tak habisin punyaku ini’ jawab dia sambil manyun
‘Hmm..’ aku pun tersenyum kelu
Perlu kalian tahu, pacarku ini punya gajah yang bersembunyi didalam perutnya. Ususnya bagaikan ular phyton yang siap menyimpan cadangan makanan selama 1 bulan. Jadi makan sebanyak apapun pasti muat. Kalau kita nge-date, dan aku gak bisa ngehabisin makanan dialah sasarannya. Alhasil tubuhnya kecil tapi perutnya segajah. Dengan sok romantis, pasti aku bilang ‘Nak, sudah 9 bulan sebentar lagi kau keluar. Pesan ibu, carilah bapak yang baik ya..’ sambil ngelus-ngelus perut pacar dan siap-siap dilempar tong sampah sama pacar. Yak… Cinta terkadang butuh bumbu-bumbu asin seperti lelucon diatas.
Oh iya, akhirnya steak yang tersisa tinggal ¼ bagian dengan segala perjuangan. Habis makan steak, aku jalan ke parkiran sambil sempoyongan dan tentunya pacarku terbahak-bahak mengikuti dari belakang.
“Yank, nyadar gak?tadi kita diliatin loh sama anak-anak SMA di meja sebelah kita” tanya pacar sambil nahan tawa.
“Oh-yya? Nnaksiir kammu kal-li”jawabku sambil mengatur nafas
“Bukan, pasti mereka mikir ini mbak-mbak apa singa? Beringas banget liat daging hahahahaha” seloroh dia sambil berlari mendahuluiku
“Heh kamu! Rasain nih! ” Dan kali ini tas belanjaan pun mendarat manis di kepala si pacar.
Bicara masalah apes, entah kenapa setiap jalan dengan pacar, aku yang selalu apes. Mungkin ini karena faktor jimat yang dimiliki pacar yang tersimpan rapi di dahinya. Maklumlah, dia dahinya panjang dan lebar, semua ketidakberuntungan pasti akan sirna terkena kilauan sinar dahi(botak)nya. Seperti waktu jalan di Malioboro, kebiasaan kita kalau kesini cuma jalan dari Mall Malioboro ke arah selatan sampai Pasar Bringharjo trus nyebrang ke Mall Ramai lanjut jalan lagi ke arah utara dan kembali lagi ke Mall Malioboro. Tanpa membeli apapun dan tanpa menenteng apapun. Cukup dengan kita bergandengan tangan, kita menikmati perjalanan ini. Walaupun sepulang dari Malioboro, kita berdua terkapar kayak orang pingsan karena kecapekan. Tapi beda untuk perjalanan kali ini, kita siap menghabiskan isi dompet kita demi diskon yang merajalela di Malioboro.
“Yank, mau kemana lagi nih kita?” tanya dia sambil mengusap keringat sejagung-jagung di dahinya
“Ke Ramashinta yuk, disana lagi Sale 70% Ay” kataku sambil melirik ke Departement Store di seberang kita.
“Capek Yank, belanjaanmu ini loh” sambil mengangkat dua tas blanjaan yang dibawanya
“Yeee, itu belanjaanmu kali, disana kan ada penitipan barang, gimana coy?” tawarku
“Huuh, iya deh nyonya besar”
“Gitu dong…ntar aku traktir es teh deh”
“Cuman es teh? Segitu doang harganya aku” katanya sambil manyun
“Pikir ntar Ay…..” sambil menggandengnya jalan.
Tiba di Ramashinta dan menitipkan barang di depan. Ternyata yang gila diskon bukan aku saja karena terbukti Ramashinta padetnya nglebihin pasar Bringharjo. Pintar-pintarnya mereka si buat menarik perhatian konsumen supaya dagangan mereka laris manis kayak jualan kaos kaki Rp. 10000,- dapet 3 biji. Dan aku salah satu konsumen yang gampang di kibuli. Liat Sale 50%, 50%+20%, 75% aja ngiler padahal stok barang tersebut banyak, alhasil waktu jalan sering liat baju yang sama di pake sama orang lain.
“Yang dicari kayak apa si Yank? Dari tadi muter-muter gak dapet-dapet” protes si pacar setelah kita puter-puter naik turun ekskalator
“Namanya juga cewek, ya diliat-liat dulu, dipilih-pilih du-”
“Dari cuman pegang-pegang doang gak dibeli!” sanggah pacar sebelum aku menyelesaikan kalimatku
“La wong belum sreg Ay”
“Pindah ke Mall Matihati aja yuk Yank, barangkali kamu nemu yang sreg”
“Yaudah yok, barang kita?”
“Titipin sini aja, ntar capek kamu bawanya”
“Cus kita…”
Berhubung sudah kaki udah capek, dompet udah bokek, keringet udah banjir di ketek. Keluarlah kita dari Mall kita dengan membawa tas belanjaan masing-masing. Yang aku pikirin dari tadi “kenapa si pacar jadi doyan belanja?”. Apa ini salah satu cara dia beradaptasi dengan ku? Ahh Cuma pikiranku saja ini.
“Udah kan shopping-nya? Buruan pulang yok ” ajak pacar
“Lah yang dari tadi shopping kan kamu Ay?”
“Ah apa iya? Kamu ah”
“Aku buang nih” sambil bersiap membuang barang si tas belanjaan
“Eh jangan dong, lumayan diskon 50%” kata dia sambil berjalan ke arah parkiran
“Coy, barang kita di Ramashinta mau ditinggal?”
“Oh iya yah gak kepikiran”
Selain pacar suka makan banyak dia juga mengidap pikun stadium II, untung pacarnya pacar gak ditinggal di Malioboro sendirian.
“Kamu tunggu sini, nih bawa” aku berkata sembari masuk ke Ramashinta
Jeng…jeng…jeng.. keapesan dimulai
“Pak, ambil barang” kataku sambil menyerahkan kartu kepada Pak Satpam yang berjaga
“Kamu belanja dimana? Kok nitipnya disini?” tanya Satpam sambil pasang muka sangar
“Belanja di sini lah Pak” jawabku dengan PeDe.
“Yakin??? Gak belanja disini kok nitipnya disini?!” sambil melirik ke arah belakang
Aku pun menoleh kebelakang…
Dan ternyata…
SI PACAR TERNYATA DI BELAKANGKU, DAN TANPA RASA BERSALAH DIA MENENTENG TAS BELANJA MATAHATI !
Maaaaaaaaaaak.. rasanya pingin kabur dari sini.
“Disini bukan tempat penitipan barang bagi yang tidak belanja disini!” kata Satpam dengan melemparkan kartu penitipan ke tempatnya.
“…….”
“Bisa baca gak? Tulisannya udah jelas tertera disini!” lanjut Satpam
Aku berjalan sambil mlongo..
Si pacar mengekor di belakang
“Kamu ngapain sih ikut masuk segala”
“Kan males diluar kayak anak ilang”
“Bukannya ngebela aku apa bilang maaf kek malah ikutan mlongo, huh!”
“Hahahahahaha, gak papa Yank, Satpamnya gak kenal kita juga”
“Tapi kan maluuuu, mana mukanya kayak Gorila gak dikasih makan seminggu”
“Udahlah besok juga dia bakal lupa”
Well, kejadian tadi emang udah dilupain sama Pak Satpam, tapi guratan malu masih tersirat di mukaku ini.
Diantara ke-apes-an yang selalu menimpaku dan di antara ke-malu-an yang menghinggapi wajahku, muncullah pertanyaan dari banyak pihak tentang hubungan kami ini. Selalu saja pertanyaan-pertanyaan seperti ini mengusik relung jiwa dan raga, “Kapan nikah?”, “Pacaran mulu, gak pengen nikah?”, “Jangan lama-lama pacaran, gak bosen apa?”. Pertanyaan ini selalu menjadi momok bagi kita berdua khususnya, aku. Apasih yang ditunggu sama pasangan yang udah pacaran 3 tahun lebih? Nungguin gajah bertelur? Nungguin semua teman-teman kita nikah duluan?. AKU JUGA PENGIN NIKAH, KALIK!!!
Waktu jamannya sibuk bimbingan Tugas Akhir di kampus, Bu Dosen tercinta memberi wejangan saat beliau tahu kalau aku sedang merajut cinta kasih dengan pacar. Aku pikir sempet-sempetnya Bu Dosen menanyakan hal ini, mengingat beliau tipikal orang yang jarang membawa masalah pribadi saat bimbingan Tugas Akhir.
“Udah lama pacarannya, Ning?” tanya bu dosen
“Ehm, tiga tahun kok Bu” jawab gue malu-malu tapi emang malu-maluin
“Buruan nikah, Ibu gak suka pacaran lama-lama. Besok habis terima ijazah, minta ijab sah sama pacar kamu” tegas beliau
“Pengennya sih begitu Bu, tapi saya kan belum kerja”
“Makanya, habis lulus terus nyari kerja. Habis nikah kan bisa cari kerja. Sambil jalan deh”
“Tapi Bu…”
“Tapi apa lagi? ”
“Pacar saya lagi SKRIPSI, Bu…”
“………………”
Dan bu dosen pun terdiam sambil menandatangani revisian Tugas Akhir tanpa banyak kata.
Yah, beliau tak sanggup berkata-kata karena berurusan dengan skripsi. Manusia-manusia yang pernah berhubungan dengan skripsi pasti tahu bagaimana skripsi menghambat sesuatu, begitu juga dengan hubungan kami.
Tahun ini pacar hampir 6 tahun bergerilya di kampusnya. Mencari kepastian akan skripsinya yang sudah 1 tahun belum selesai. Bersaing dengan junior-junior untuk mencapai garis finish, yang pada akhirnya beberapa juniornya wisuda duluan sementara dia masih sibuk revisi proposal skripsinya. Jahatnya, aku pun wisuda mendahuluinya HAHAHAHAHAHAHAHAHA *ketawa setan*. Skripsi inilah terkadang membuat acara kencan kita sering delay. Delay-nya kencanmembuat salah satu dari kita untuk mengalah, biasanya aku.
“Ay, besok pilmnya bagus” ajak aku
“Aduh yank, besok aku mau bimbingan udah dikejar-kejar si bapak” jawab dia
Contoh lain…
“Yank, cari-cari gedung buat resepsi yuk” ajak pacar
“Di daerah Purworejo aja kan? SMA-ku bisa kok disewa buat resepsi”
“Mahal gak?”
“Mana aku tau, emang kita nikah kapan?”
“Ya buat persiapan aja, katering, make up,tukang foto, cetak undangan kan kita udah punya kenalan” jawab dia enteng
“Mikir nikah, skripsi tuh pikirin” ejekku
“Yee, kan usaha” alih dia sambil pasang muka memelas
Di umur kami yang gak bisa dibilang remaja lagi. Bukan jamannya pacaran terus seneng-seneng doang tanpa mikir arah kedepannya gimana. Bukan masa pacaran yang hanya mementingkan ego masing-masing dan putus-sambung. Bukan masalah lagi kalau masing-masing sudah mempunyai penghasilan yang tetap dan pekerjaan mapan. Dan yang terjadi pada kami adalah, masing-masing belum mempunyai penghasilan yang tetap dan pekerjaan mapan. Si pacar yang masih ribet dengan skripsinya dan aku yang ribet dengan status jobseeker (bukan pengangguran).
“Ay, gak papa nih aku belum kerja? Gak malu? ” tanyaku disela-sela waktu kencan kita
“Gak tuh, memangnya kamu gak malu aku belum lulus-lulus? Tanya dia balik
“Gak juga”
“Impas kan kita” jawab dia enteng
*lalu berpelukan*
Benar kata orang, kalau cinta butuh pengertian dan pengorbanan. Menetapkan pilihan untuk menjalin hubungan dengan seseorang adalah kemauan kita sendiri. Siapapun yang disamping kita saat menghabiskan waktu di pantai sambil menikmati sunset, kita harus menerima kondisi pasangan yang ada disamping kita. Ambil saja hikmahnya, kalau sampai sekarang aku belum dapet kerjaan tetap mungkin supaya seimbang dengan pacar yang belum wisuda. Kalau sampai sekarang aku belum dilamar pakai lagunya Brian Mcknight – Marry Your Daughter mungkin supaya aku bisa fokus nyari kerja. Kalau sampai sekarang aku belum di-ijab kabul sama pacar mungkin karena aku diberi kesempatan untuk melirik pria lain *diceburin pacar ke kali*. Yang bener, kalau sampai sekarang aku belum di-ijab kabul sama pacar mungkin karena aku diberi kesempatan untuk kita saling mendewasakan diri masing-masing.
Bye,

Salam cium
Perempuan yang tersaingi oleh skripsi


NB: Doakan tahun ini saya dinikahi dengan seperangkat alat solat tunai dan sepaket BPM beserta isi-isinya. aamiin

Seperti biasa silakan menengok ke blog saya di sebelah