Friday, 18 July 2014

Sesulit apa pekerjaan kalian?


‘Dek Bidan.....!’ teriakan yang membuat aku sadar

Teplak..teplak...teplak... ‘ Suara sandal yang berlari mengikuti kaki empunya

‘Gak usah pake lari-lari.. ’teriakan makin kenceng.

‘Gimana Bu?’ responku sambil menunduk takut

‘Dapet pasien apa kamu? Gimana kondisinya?’ tanya Bidan seniorku ini

‘Eee...pasien GIP0A0, 24 tahun, hamil 38 minggu 2 hari, janin tunggal hidup intrauterin, presbelkep, puka dengan ketuban pecah di....’

‘Tensinya berapa?’

‘120/70, bu’ jawab aku singkat

‘Terus kamu, dapet pasien apa kamu?’ tanya Bidan senior ke temen sebelah aku yang juga sudah pucat.

bla..bla...bla....

‘Oke, observasi pasien masing-masing jangan rebutan ya’

‘Iya buuuu..’ jawab kita yang lagi praktek disini.

‘Plus, jangan lari didalam ruangan , disini bukan lapangan’ lirik beliau tajam

'..........'

        Fiuh, udah bisa kentut nih sekarang. Deg-degannya minta ampun, Nek. Bidan senior tadi termasuk bidan yang ‘disegani’ di lingkungan rumah sakit tempat aku praktek klinik semester ini. Dilihat dari postur tubuhnya yang berisi, alisnya tebal,  tatapan matanya menusuk yang seakan-akan masuk kedalam mata siapapun yang melihatnya. Sebisa mungkin sih menghindar kalau ketemu beliau. Sayangnya, hari ini harus jaga pagi dan pasti ketemu beliau. Hal yang menyebalkan kalau lagi praktek klinik adalah jaga pagi di rumah sakit. Kenapa?

·         Harus bangun pagi. Shift pagi dimulai jam 07.00 WIB dan jangan telat. Telat masuk ke ruangan dimana semua orang yang kerja di situ saling bahu membahu membersihkan ruangan dan kalian dengan muka polos masuk sambil bilang “Ibu, maaf saya terlambat ban motor saya bocor”. Siap–siap deh sepanjang shift bakal jadi pusat perhatian, ini bukan karena kalian artis tapi yah kalian tahu sendiri.
·         Shift pagi adalah shift tersibuk dari shift siang ataupun malam. Kenapa?  Semua jadwal operasi (kalau bukan cyto) dilaksanakan pagi hari. Jadi kita yang sibuk sana-sini mempersiapkan ibu yang akan di operasi. Kebanyakan pegawai masuk kerja pada shift pagi begitu juga dengan senior-seniornya. Beruntung kalau pegawainya baik-baik, la kalau sengak? Ya derita kamu deh. Dari semua pertimbangan di atas, dimanapun aku praktek klinik dan dapetnya di rumah sakit, dapet shift pagi pula intinya harus mempertebal mental.

         Alhamdulillah sekarang sudah menjadi bidan beneran yang agak abal-abal dan ditempatkan di puskesmas. Hihihihi. Dari dulu saya memang ingin sekali ditempatkan di puskesmas. Sepertinya mental saya belum cocok untuk di rumah sakit. Berkutat dengan pasien yang butuh tindakan cepat, senior di sana-sini, harus gerak cepat. Semua serba cepat.

        Eits, tapi jangan salah. Kerja di puskesmas bukan berarti santai dan seenak udel sendiri. Pegawai puskesmas itu ujung tanduk dunia kesehatan. PUSKESMAS = Pusat Kesehatan Masyarakat. Dilihat dari namanya pun sudah jelas, bukan? Kita yang pertama kali berhadapan dengan pasien, entah pasien dengan sakit ringan atau pasien yang butuh rujukan.

        Menurut kebanyakan, puskesmas itu tempat rehabilitasi & kuratif, tetapi sebenarnya dia tempat preventif dan promosi. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar menjelaskan apa itu Puskesmas. Kalian bisa cari sendiri kan? Kurangin manjanya yaaa.

        Preventif dan promosi maksudnya, sebelum terjadinya kesakitan kita harus mencegah dan gembar-gembor upaya agar tidak terjadi kesakitan. Walaupun kita tahu semua ada di tangan Alloh.
Makanya waktu sekolah banyak sekali pak mantri & bu mantri yang datang ke SD untuk suntik menyuntik. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Jangan pada dendam sama pak mantri karena kalian di suntik ya. Kerjaan mereka susah lho, dari mengumpulkan data siswa, kerjasama dengan sekolah, mengambil vaksin di dinas kesehatan, menghadapi anak-anak rewel gak mau disuntik, kejar-kejaran dengan siswa yang kabur, dan yang paling berat adalah tanggung jawab mereka. Misal (semoga tidak ada kejadian) setelah di suntik ada yang panas, bengkak daerah suntikan. Pasti orang tua portes kan? Berat tauk.

       Terkadang ada pegawai puskesmas yang door to door untuk mendata status imunisasi, menanyakan kesehatan anggota keluarga & kebersihan rumah. Jangan ditolak ya kalau mereka datang. Susah tauk kerjaan mereka, dari mendata penduduk di wilayahnya, berkoordinasi dengan kelurahan, jalan dari rumah ke rumah, belum lagi ada masyarakat yang memandang sebelah mata pekerjaan kami. Sakitnya tuh di sini *nunjuk dada kiri*

       Terus ada yang protes karena pelayanan di puskesmas itu lama, pegawainya judes-judes, mau bikin rujukan aja dipersulit. Hei, kerjaan kami selain mengurus pasien sakit, melayani obat, ibu hamil, imunisasi, dan yang lain. Kami sibuk dengan laporan setelah selesai pasien. Makanya kalian jangan seenaknya datang siang ke puskesmas. Kita juga harus merekap laporasn yang kami lakukan. Mencatat apa yang dilakukan.
Nah yang suka marah-marah tentang rujukan. Banyak masyarakat yang menangkap setengah informasi dari pemerintah. Ada yang ingin dirujuk dari puskesmas langsung ke rumah sakit tipe A (contohnya: RS Hasan Sadikin, RS Sardjito, RS Karyadi). Rujukan itu berjenjang tauk. Dari  pusat kesehatan dasar sampai rumah sakit pusat. Kalau bisa di tangani di puskesmas, ya pasti ditangani. Jangan seenaknya sendiri. Lebih baik tanya dan hargai penjelasan mereka.

       Capek juga meluapkan apa yang dialami setelah setahun ini. Sebenarnya cerita  ini mah singkat banget, gimana kalau kita ketemuan aja biar kalian nanya lebih puas? Hahahaha.

       Ngeluh? Kadang iya, tetapi jangan mengumbar keluhan di hadapan orang lain. Banyak orang yang ini berada di posisi kita kan?. Tuhan selalu tahu dan ada di samping kita kok.


Salam cium,
Perempuan yang menikmati pekerjaannya.



No comments:

Post a Comment