‘Dek Bidan.....!’ teriakan yang membuat aku sadar
‘Teplak..teplak...teplak...
‘ Suara
sandal yang berlari mengikuti kaki empunya
‘Gak usah pake lari-lari.. ’teriakan makin
kenceng.
‘Gimana Bu?’ responku sambil menunduk takut
‘Dapet pasien apa kamu? Gimana kondisinya?’
tanya Bidan seniorku ini
‘Eee...pasien GIP0A0, 24 tahun, hamil 38 minggu 2 hari, janin tunggal hidup
intrauterin, presbelkep, puka dengan ketuban pecah di....’
‘Tensinya berapa?’
‘120/70, bu’ jawab aku singkat
‘Terus kamu, dapet pasien apa kamu?’ tanya
Bidan senior ke temen sebelah aku
yang juga sudah pucat.
‘bla..bla...bla....’
‘Oke, observasi pasien masing-masing jangan
rebutan ya’
‘Iya buuuu..’ jawab kita yang lagi praktek
disini.
‘Plus, jangan lari didalam ruangan , disini
bukan lapangan’ lirik beliau tajam
'..........'
Fiuh, udah bisa kentut nih sekarang. Deg-degannya
minta ampun, Nek. Bidan senior tadi termasuk bidan yang ‘disegani’ di
lingkungan rumah sakit tempat aku praktek klinik semester ini. Dilihat dari postur tubuhnya yang berisi,
alisnya tebal, tatapan matanya menusuk yang
seakan-akan masuk kedalam mata siapapun yang melihatnya. Sebisa mungkin sih menghindar kalau
ketemu beliau. Sayangnya, hari ini harus jaga pagi dan pasti ketemu beliau. Hal yang menyebalkan kalau lagi
praktek klinik adalah jaga pagi di rumah sakit. Kenapa?
·
Harus bangun pagi. Shift pagi
dimulai jam 07.00 WIB dan jangan telat. Telat masuk ke ruangan dimana semua
orang yang kerja di situ saling bahu membahu membersihkan ruangan dan kalian
dengan muka polos masuk sambil bilang “Ibu, maaf saya terlambat ban motor saya bocor”.
Siap–siap deh sepanjang shift bakal jadi pusat perhatian, ini bukan karena
kalian artis tapi yah kalian tahu sendiri.
·
Shift pagi adalah shift tersibuk
dari shift siang ataupun malam. Kenapa? Semua
jadwal operasi (kalau bukan cyto) dilaksanakan pagi hari. Jadi kita yang
sibuk sana-sini mempersiapkan ibu yang akan di operasi. Kebanyakan pegawai
masuk kerja pada shift pagi begitu juga dengan senior-seniornya. Beruntung
kalau pegawainya baik-baik, la kalau sengak? Ya derita kamu deh. Dari semua pertimbangan di atas, dimanapun aku praktek klinik dan
dapetnya di rumah sakit, dapet shift pagi pula intinya harus mempertebal mental.
Alhamdulillah sekarang
sudah menjadi bidan beneran yang agak abal-abal dan ditempatkan di puskesmas.
Hihihihi. Dari dulu saya memang ingin sekali ditempatkan di puskesmas. Sepertinya
mental saya belum cocok untuk di rumah sakit. Berkutat dengan pasien yang butuh
tindakan cepat, senior di sana-sini, harus gerak cepat. Semua serba cepat.
Eits, tapi jangan
salah. Kerja di puskesmas bukan berarti santai dan seenak udel sendiri. Pegawai
puskesmas itu ujung tanduk dunia kesehatan. PUSKESMAS = Pusat Kesehatan
Masyarakat. Dilihat dari namanya pun sudah jelas, bukan? Kita yang pertama kali
berhadapan dengan pasien, entah pasien dengan sakit ringan atau pasien yang
butuh rujukan.
Menurut kebanyakan,
puskesmas itu tempat rehabilitasi & kuratif, tetapi sebenarnya dia tempat
preventif dan promosi. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar menjelaskan
apa itu Puskesmas. Kalian bisa cari sendiri kan? Kurangin manjanya yaaa.
Preventif dan promosi
maksudnya, sebelum terjadinya kesakitan kita harus mencegah dan gembar-gembor
upaya agar tidak terjadi kesakitan. Walaupun
kita tahu semua ada di tangan Alloh.
Makanya waktu sekolah
banyak sekali pak mantri & bu mantri yang datang ke SD untuk suntik
menyuntik. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Jangan pada dendam
sama pak mantri karena kalian di suntik ya. Kerjaan mereka susah lho, dari
mengumpulkan data siswa, kerjasama dengan sekolah, mengambil vaksin di dinas
kesehatan, menghadapi anak-anak rewel gak mau disuntik, kejar-kejaran dengan
siswa yang kabur, dan yang paling berat adalah tanggung jawab mereka. Misal (semoga
tidak ada kejadian) setelah di suntik ada yang panas, bengkak daerah suntikan. Pasti
orang tua portes kan? Berat tauk.
Terkadang ada pegawai
puskesmas yang door to door untuk
mendata status imunisasi, menanyakan kesehatan anggota keluarga &
kebersihan rumah. Jangan ditolak ya kalau mereka datang. Susah tauk kerjaan
mereka, dari mendata penduduk di wilayahnya, berkoordinasi dengan kelurahan,
jalan dari rumah ke rumah, belum lagi ada masyarakat yang memandang sebelah
mata pekerjaan kami. Sakitnya tuh di sini *nunjuk dada kiri*
Terus ada yang protes
karena pelayanan di puskesmas itu lama, pegawainya judes-judes, mau bikin
rujukan aja dipersulit. Hei, kerjaan kami selain mengurus pasien sakit,
melayani obat, ibu hamil, imunisasi, dan yang lain. Kami sibuk dengan laporan
setelah selesai pasien. Makanya kalian jangan seenaknya datang siang ke
puskesmas. Kita juga harus merekap laporasn yang kami lakukan. Mencatat apa
yang dilakukan.
Nah yang suka
marah-marah tentang rujukan. Banyak masyarakat yang menangkap setengah
informasi dari pemerintah. Ada yang ingin dirujuk dari puskesmas langsung ke
rumah sakit tipe A (contohnya: RS Hasan Sadikin, RS Sardjito, RS Karyadi). Rujukan
itu berjenjang tauk. Dari pusat
kesehatan dasar sampai rumah sakit pusat. Kalau bisa di tangani di puskesmas,
ya pasti ditangani. Jangan seenaknya sendiri. Lebih baik tanya dan hargai
penjelasan mereka.
Capek juga meluapkan
apa yang dialami setelah setahun ini. Sebenarnya cerita ini mah singkat banget, gimana kalau kita
ketemuan aja biar kalian nanya lebih puas? Hahahaha.
Ngeluh? Kadang iya, tetapi
jangan mengumbar keluhan di hadapan orang lain. Banyak orang yang ini berada di
posisi kita kan?. Tuhan selalu tahu dan ada di samping kita kok.
Salam cium,
Perempuan yang
menikmati pekerjaannya.
No comments:
Post a Comment