Wednesday, 16 July 2014

Dia yang aku anggap rumah


Dia yang aku anggap rumah
Sampai sekarang masih menaungiku saat mendewasa
Dia yang aku anggap cokelat
Masih setia membuatku bahagia saat berduka
Dia yang aku anggap buku
Dengannya aku mempelajari arti hidup manusia
Dia yang aku anggap obat
Menemaniku di kala darah putih meningkat
Dia yang aku anggap baju
Saat dosa berani menelanjangiku
Dia yang tak pernah tergantikan oleh siapapun
Dia yang setia  menanti kepulanganku
Dia yang setia disaat yang lain meninggalkanku
Dia yang merentangkankan tangannya untuk memelukku
Dia yang merelakan bahunya untuk ku berkeluh
Dia yang aku panggil, Ibu
Saat uban berani mengubah warna rambutnya
Dia masih setia mengelus rambutku saat tidur
Kasihnya tak pernah memudar seperti rambut.
Maaf Ibu, bungsu ini belum sanggup membawamu beribadah di rumah Alloh.
Doakan aku di setiap sujudmu agar aku bisa mewujudkan asa kita.
Maaf Ibu, aku hanya mengirimkan pesan singkat saat hari bahagiamu
Telepon membuatku menangis tanpa bisa berkata
Maaf Ibu, bungsu ini masih sering membuatmu khawatir.
Sedangkan sudah waktunya engkau menikmati hidupmu sendiri.
Semoga Ibu, kita bisa berkumpul lagi di Jannah
Semoga Ibu, engkau selalu bahagia
Semoga Ibu, engkau selalu sehat
Semoga Ibu, engkau selalu damai
Selamat ulang tahun yang ke 58, Ibu
Sekali lagi,
Semoga kita berkumpul lagi di Jannah
Aamiin
Aamiin ya robbal alamiin

Salam cium,
Bungsu yang selalu merindukan ketiakmu untuk berlindung

Tulisan ini pernah saya muat tanggal 21 Mei 2014 di sini
foto nge-hits taun 90an. 

No comments:

Post a Comment