Kita memang pernah bersama, tertawa bersama, mempunyai mimpi yang sama, naif di kala muda.
Sudah saatnya aku memutuskan untuk melepaskan.
Hei, bukan berarti aku tidak bertahan dan melepaskan adalah jalan terakhir.
Aku pernah mempertahankan sepenuh hati. Ingat, aku pernah mempertahankan.
Aku pun berpikiran kamu juga mempertahankan mati-matian.
Sekarang aku balik bertanya, apa jadinya sebuah hubungan jika keduanya sudah berbeda tujuan dan menganggap paling benar ego masing-masing.
Aku tidak ingin memperuncing masalah dan menjadi musuh.
Aku anggap aku gagal dalam hubungan ini.
Ini bukan permintaan maaf, aku anggap ini salam perpisahan.
Karena banyak sekali maaf yang terucap saat kita mengadu ego masing-masing.
Terima kasih telah bersedia menemaniku dan memanggilku sayang.
Terima kasih untuk semua pelajaran berharga yang tak pernah ku dapatkan di sekolah.
Jika suatu saat kamu merindukanku atau aku merindukanku, kenanglah aku sebelum kita memutuskan berpisah.
Jika suatu saat kita bertemu di tempat yang ditentukan Tuhan, aku akan menganggapmu tetap ada.
Entah bagaimana dengan dirimu.
Entah kamu ingin menganggapku tidak ada di kehidupanmu.
Aku pergi bukan karena aku menyerah tapi karena kamu telah kehilangan aku.
Hei, persiapkan dirimu untuk mencari sosok pengisi sisi kiri.
Aku pun seperti itu, mencari sosok untuk mengisi sisi kanan.
Sudah saatnya kamu mencari sosok yang bisa kau lindungi dengan bahumu & hangatkan dengan jaketmu. Aku pun demikian, sudah saatnya mencari sosok yang akan kubuatkan kopi di pagi hari.
Perempuan yang pergi.
No comments:
Post a Comment